Terima kasih kepada Koran Jakarta atas pemuatan resensi buku “Sukacita dalam Panggilan” pada Hari Senin, 23 Januari 2017 yang ditulis oleh Saudara  Kunar, alumnus Universitas Diponegoro Semarang.

 

Berikut merupakan cuplikan dari resensi buku tersebut.

 

Setiap orang memiliki panggilan hidup masing-masing sesuai dengan hati. Ada yang hidup berkeluarga. Meski sedikit, tetap ada pula mereka yang mengambil jalan hidup membiara hidup tidak menikah demi pengabdian kepada Tuhan dan sesama. Menjadi romo atau biarawani merupakan panggilan yang sangat berharga dan penuh tantangan. Tidak semua orang bisa menjalani kehidupan tersebut. Dalam menjalani hidup ini penuh tantangan dan godaan karena mereka harus melepaskan keinginan duniawi.

 

Buku ini menjelaskan cara hidup seseorang romo atau biarawan harus melewati jalan terjal. Kehidupan harus totalitas menjalankan ajaran-ajaran Yesus. Zaman sekarang, orang dipandang hormat tatkala memiliki jabatan dan harta mewah. Tetapi dalam kehidupan biarawan tidak ada artinya kehidupan seperti itu.

 

Biara sering dipandang sebagai tembok yang memisahkan “sekelompok manusia” dengan kelompok besar manusia lainnya yang sering disebut sebagai “orang biasa”. Pandangan ini bukan berarti mereka memiliki kehidupan yang berbeda dari orang “biasa”. Mereka menjalankan kehidupan dari balik “layar” bukan untuk dipuji, tetapi guna mewujudkan kehidupan yang damai dan selaras.

 

Coba tengok kehadiran para suster Ursulin yang telah memberi warna dalam berbagai bidang kehidupan, terutama bidang pendidikan. Di Jakarta, siapa yang tak kenal Sekolah Santa Ursula atau Santa Maria. Begitu juga di Surabaya. Di Bandung ada Santa Angela dan Prova. Di kota kecil berhawa dingin, Sukabumi, para Ursulin mengelola sekolah Juwana Bhakti dan rumah retret. 

 

Belum lagi di kota-kota lainnya di Indonesia. Bahkan, mereka juga melayani berbagai karya sampai ke pelosok-pelosok. Di Agats, sebuah “negeri di atas air” di tanah Papua, kita juga menjumpai beberapa suster Ursulin. Mereka berkarya pastoral di tengah-tengah umat yang masih amat sederhana hidupnya dibanding Jawa. 

 

Selebihnya dapat dibaca di portal ini Koran-Jakarta.com