Betapapun Teresa senantiasa menyatakan diri sebagai anggota Gereja, namun kehadiran dan karyanya melampaui tembok batas kehadiran Gereja. Tarekatnya bisa hadir di tempat-tempat di mana Gereja sangat dibatasi atau dipersulit, seperti di negara-negara Islam, Yaman, Sudan, Maroko, juga Irak, tetapi juga di negara komunis, seperti Kuba dan China. Bahkan, Teresa bisa bertemu dengan Fidel Castro, jauh sebelum Paus sendiri bisa datang ke sana, atau juga dengan pejabat tinggi pemerintahan di Sudan.

 

Demikian juga di India, masyarakat yang sangat multireligius, kehadiran Tarekat Misionaris Cintakasih, tarekat yang didirikannya, bisa diterima baik oleh kalangan Hindu dan Islam, betapapun mereka tahu bahwa tarekat itu adalah tarekat Katolik. Kasih memang tak mengenal batas, dan tidak pula bisa dibatasi oleh tembok pembatas apa pun juga, pun batas agama.

 

Memang itulah kasih sejati: kasih yang mampu menembus sekat-sekat yang menghalangi kesatuan serta persaudaraan antarumat manusia. Sekat tersebut dibuat manusia karena adanya perbedaan satu sama lain. Perbedaan yang seharusnya diterima untuk semakin melengkapi serta menyempurnakan kehidupan bersama, malahan dijadikan alasan untuk memisahkan diri satu sama lain. Bahkan tidak jarang tidak hanya pemisahan satu sama lain, perbedaan menjadi pula alasan dan bahan bagi terjadinya perpecahan, pertikaian, perang, bahkan dalam sejarah terjadi pula pembasmian kelompok yang berbeda. Genocideitu terjadi dalam sejarah umat manusia. Tindakan semacam itu terjadi pula di Indonesia. Peristiwa sekitar 1965-1966, bahkan kerusuhan Mei 1998, ataupun berbagai konflik antarsuku-etnis lainnya menggambarkan betapa karena alasan berbeda ideologis, etnis, suku, atau agama menjadi alasan sah untuk boleh membunuh dan merusak. Kasih tidak ada di dalamnya. Yang ada adalah kebencian, rasa marah, dan sikap iri hati.

 

Tiadanya kasih, menghasilkan perpecahan. Ketika Teresa memulai panggilannya, sedang terjadi konflik sosial di India, yang antara lain menghasilkan perpecahan India dan Pakistan (kemudian juga Bangladesh). Setiap konflik sosial, juga konflik antaragama, senantiasa mendatangkan korban orang-orang miskin. Maka, kampung kumuh semakin melebar dan orang-orang miskin semakin bergeletakan di lorong-lorong jalan kota Kalkuta. Situasi krisis mendatangkan panggilan sebab Tuhan ingin menunjukkan tanda kasih-Nya bahwa Dia senantiasa hadir menyelamatkan umat manusia. Teresa dipilih sebagai alat kasih-Nya.

 

Situasi itu seakan mengulangi situasi masa kecilnya. Albania waktu itu memang sedang dalam pergolakan, terlebih dalam upaya memerdekakan diri dari penjajahan Yugoslavia. Bahkan, ayahnya mati di tengah situasi tersebut. Namun, situasi seperti itu malahan menjadikannya terbuka akan sapaan panggilan Allah. Allah tidak pernah tinggal diam, namun senantiasa memanggil umat pilihan-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya. Konflik dan perpecahan menghasilkan pertikaian, dan setiap pertikaian senantiasa mendatangkan korban. Selalu yang menjadi korban dari situasi itu adalah orang-orang miskin. Kemiskinan dan penderitaan memang selalu merupakan tanda dan buah dari pertentangan sosial atau perebutan kepentingan kaum elite dan mereka yang memiliki uang dan kuasa untuk bermain-main dengan kehidupan. Orang-orang miskin dan menderita memang selalu terabaikan di tengah konflik kepentingan dan kuasa mereka yang memiliki uang dan kuasa, malahan bukan saja terabaikan, tetapi juga terkorbankan. Kepentingan akan kuasa memang tidak bicara soal kasih. Situasi seperti inilah yang mewarnai panggilan serta perutusan Teresa. Yang dipahami Teresa dari panggilan tersebut adalah bahwa kasih semakin langka dalam kehidupan umat manusia.

 

Perumpamaan tentang pengadilan terakhir dalam Mat 25 menjadi dasar dari hidup mistiknya ini. Malahan baginya, semakin tubuh seseorang busuk dan rusak, semakin nyata Yesus hadir secara tersamar dalam diri orang itu. Tentu hal ini hanya mungkin dikenali lewat pengalaman mistik, sebagaimana Santo Fransiskus Assisi juga mengalaminya. Semakin jijik dan bau seseorang, semakin dibutuhkan iman untuk mengenali Yesus yang hadir. Pengalaman mistik ini hanya mungkin didapatkan berkat relasi erat mendalam secara personal dengan Allah, yang bagi Teresa, sumbernya ada dalam doa dan terlebih Ekaristi. Baginya, kemampuan menangkap kehadiran Tuhan secara tersamar dalam wujud roti, membantunya untuk mengenali Dia yang hadir dalam keterpecahan dan keterpurukan tubuh yang luka oleh derita dan kemiskinan. Derita dan kemiskinan merupakan wajah keterpecahan dan keterlukaan dunia kehidupan. Kurban Kristus adalah kurban penyembuhan serta penyelamatan hidup manusia dari luka dan keterpecahan yang dialaminya. Karena nya, pelayanan kasih pada mereka yang miskin, menemukan tempat pula sebagai pelayanan bagi pemulihan kehidupan.

 

Teks diambil dari Buku Teresa Dari Kalkuta (Krispurwana Cahyadi)