Inspirasi Hari Ini

  • Hati adalah Jendela Kehidupan Rohani

     

    Kamar  yang  saya  tempati  sekarang  ini  memiliki  dua  jendela.  Satu  jendela  tidak pernah saya buka. Tetapi satu jendela lagi hampir setiap hari saya buka. Saya ingin sirkulasi di kamar saya baik. Udaranya tidak pengap, karena menurut saya kamar yang sehat adalah kamar yang memiliki jendela untuk terjadinya sirkulasi udara. Selain itu, fungsi  jendela  juga  untuk  memasukkan  cahaya  matahari  agar  dapat  mematikan  kumankuman yang mungkin ada di dalam kamar saya. Pada malam hari jendela kamar saya selalu ditutup untuk menghindari udara malam yang tidak baik bagi kesehatan.

     

    Bagaikan  jendela,  hati  juga  demikian.  Hati  adalah  jendela  kehidupan  rohani  kita sebagai umat Tuhan. Sebagai jendela kehidupan, hati kita hendaknya selalu terbuka untuk mempersilakan masuknya Roh Kudus. Hati inilah yang dimiliki oleh Elisabet istri Zakharia. Elisabet,  meskipun  dia  tahu  dirinya  mandul,  tidak  menangis.  Dia  tidak  mempersalahkan Tuhan dan orang lain. Elisabet bukan orang penggerutu. Sebagai istri yang mandul, Elisabet mempertaruhkan  masalah  hidupnya  kepada  Tuhan  sambil  tetap  setia  mendampingi  dan menemani sang suami menjalankan tugas-tugas imamatnya.

     

    Penderitaan yang Elisabet tanggung karena ejekan dan hinaan sangat berat, tetapi dia tidak bertindak bejat. Elisabet berusaha tetap hidup sebagai mempelai perempuan yang bijaksana dan taat beribadah. “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (Luk. 1:6) Sikap Elisabet ini patut menjadi teladan bagi kita umat Katolik yang hidup dalam masa penantian akan kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Kesetiaan Elisabet  membuat  Tuhan  tidak  sampai  hati  membuatnya  terus  menanggung  aib.  “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk. 1:25) Tuhan bertindak dan Elisabet yang mandul itu, akhirnya mengandung. Ia nantinya akan melahirkan seorang anak laki-laki pada masa tua.

     

    Ketika  Elisabet  tahu  dia  akan  mengandung  dan  akan  melahirkan  seorang  anak  lakilaki,  Elisabet tidak  pamer  sana-sini  dan  menggembar-gemborkan  kabar  tersebut.  Elisabet menyerahkan diri kepada penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya. Kepribadian Elisabet sangat terpuji di hadapan Tuhan. Karena itu Lukas, sang penulis Injil, memasukkan Elisabet dalam  riwayat  kelahiran  Yesus  Kristus.  Selain  itu,  Elisabet  adalah  seorang  yang  rendah hati. Elisabet tidak sedikit pun cemburu kepada Maria, ibu Yesus yang mendapatkan lebih dari dia. Elisabet sadar betul bahwa semua yang diterimanya adalah karunia Tuhan. Sikap kerendahhatian  Elisabet  ini  akhirnya  diwarisi  oleh  anaknya,  Yohanes  Pembaptis.  Jendela hati Elisabet selalu dibuka untuk Roh Kudus agar memenuhinya dengan berkat. Kesabaran, kesetiaan, dan kerendahhatian menjadi tanda kehadiran Roh Kudus dalam hidup. Karena itu, bukalah hati kita agar selalu dipenuhi dengan Roh Kudus supaya kita bisa merasakan rahmat itu dalam kehidupan. Kisah pengalaman Elisabet ini menjadi inspirasi bagi kita. “Tetaplah tersenyum saat badai melanda. Bekerjalah lebih keras daripada sebelumnya. Hanya mereka yang telah teruji oleh guncangan badai, layak memimpin kapal yang lebih besar.” (Steve Kosasih. “Teguh Tersenyum di Tengah Badai” dalam Harian Kompas, 26 November 2015, hlm.  39).  Elisabet  telah  memberikan  teladan.  Kini  tiba  saatnya  bagi  kita  mengikuti  sikap Elisabet dalam hidup beriman dan hidup harian. (AL)