Inspirasi Hari Ini

  • Buah Kebaikan

     

    Di bandara Soekarno-Hatta, seorang pria separuh baya yang mengenali saya sebagai seorang pastor, membagikan pengalaman hidup rohaninya. Ia mengatakan bahwa setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi hari Minggu di parokinya, ia selalu membawa novel. Bila pastor paroki yang bertugas memimpin perayaan, ia pun mulai melanjutkan membaca novel yang sudah dimulai ketika di rumah. Dengan jujur ia mengatakan bahwa ia  oleh suatu sebab – sedang memendam rasa ‘memusuhi’ pastor paroki. Suatu ketika, sekilas ia mendengar sepenggal kalimat dalam khotbah pastor paroki, “Jangan pernah merasa rugi  memberikan  maaf,  karena  dengan  memaafkan,  Anda  sedang  menyelamatkan  hidup Anda dari penderitaan karena sakit hati.” Kalimat tersebut terus-menerus mengusik telinga hatinya. Menjelang tidur malam ia menjadi sadar bahwa ia sedang mengalami sakit yang mematikan hidup rohaninya. Singkat kata, ketika ia berhasil membangun kembali komunikasi penuh damai dengan pastor paroki, segalanya menjadi cerah. Ia bebas dari rasa tertekan ketika menuju ke gereja, dan juga tidak terburu-buru menghilang dari halaman gereja untuk menghindari pastor parokinya. Ia menjadi lebih gembira dari hari-hari sebelumnya. Dengan penuh sukacita ia bergabung kembali dengan kelompok paduan suara paroki untuk memuji Tuhan.

     

    Lukas, dalam bacaan hari ini, mengetengahkan dua perumpamaan yang digabungkan, yaitu  perumpamaan  tentang  uang  mina  dan  perumpamaan  tentang  seorang  bangsawan yang hendak dinobatkan menjadi raja. Mungkin saja, perumpamaan tentang cara masingmasing kesepuluh hamba memperlakukan satu mina, oleh Yesus, dipaskan dengan perjalanan Arkhelaus ke Roma untuk mendapatkan pengesahan wasiat Herodes Agung yang menunjuk Arkhelaus sebagai pengganti, namun ditolak oleh orang-orang Yahudi. Dua perumpamaan yang  digabungkan  ini  membentuk  sebuah  perenungan  yang  sangat  berarti,  sekurangkurangnya bagi saya. Saya yakin bahwa sepuluh orang hamba yang dikisahkan dalam Injil sangat mengenal karakter tuannya, namun ada dua macam sikap yang muncul, yaitu: menerima dan menolak. Hamba-hamba yang mampu melihat sisi positif tuannya, mampu mengembangkan uang mina yang menjadi tanggung jawabnya. Hati mereka dimerdekakan dari  rasa  tidak  suka  terhadap  tuannya.  Dari  satu  mina  ada  yang  berkembang  menjadi sepuluh mina, ada pula yang lima mina. Hamba yang tidak mampu menerima kekurangan tuannya  tidak  mampu  pula  mengembangkan  uang  mina  karena  hatinya  dihadang  oleh tembok penolakan. Hatinya telah tertutup untuk melihat sisi positif dari tuannya yang telah bermurah hati memberikan ‘modal’ untuk dikembangkan.

     

    Bagaimana dengan kita? Dari sisi kehidupan rohani, pengalaman pria paruh baya dan perumpamaan  Yesus  tentang  uang  mina  memberikan  pesan  tegas  kepada  kita  bahwa kehidupan rohani kita tidak akan berkembang, atau bahkan menjadi kering dan mati bila hati kita tertutup dari kemauan untuk hidup damai dengan diri dan sesama. Kehidupan rohani kita hanya akan bertumbuh subur dan menghasilkan buah-buah kebaikan yang melimpah bila kita mau berdamai dengan diri dan sesama serta menerima Tuhan menjadi raja atas hidup kita. Kehidupan rohani yang bertumbuh subur, akan dengan sendirinya menyuburkan pula relasi kita dengan sesama. Olehnya, kita pun menjadi pribadi yang lepas bebas mengembangkan berkat-berkat yang berasal dari Tuhan bagi kepentingan hidup bersama sebagai keluarga Allah. (WID)