Inspirasi Hari Ini

  • Jalan Menuju Kesucian

    Hukum  Taurat  dan  adat  istiadat  Yahudi  memuat  banyak  aturan  tentang  makan. Menjalankan peraturan-peraturan yang termuat dalam Taurat dipandang sebagai jalan menuju “kesucian” karena dengan begitu dianggap berkenan kepada Tuhan. Karena  itu  banyak  orang  berusaha  memenuhi  aturan  dengan  sebaik-baiknya  dan  seteliti-telitinya. Semakin teliti melakukan aturan, semakin dipandang baik. Yesus meluruskan dasar praktik itu bahkan ‘menjungkirbalikkannya’. Urusan makan dan minum itu urusan fisik biologis semata. Tidak ada kaitan dengan moralitas. Apa yang dimakan, setelah dicerna tubuh, akan keluar dan selesailah urusannya. Berbeda dengan apa yang keluar dari seseorang. Selain hal-hal biologis, keluar pula pikiran, sikap, kata-kata, dan tindakan yang bisa mengotori diri, karena  berkaitan  dengan  nilai  hidup  dan  moralitas.  Pikiran  jahat,  pencabulan,  pencurian, pembunuhan,  perzinaan,  keserakahan,  kejahatan,  kelicikan,  hawa  nafsu,  iri  hati,  hujat, kesombongan, kebebalan, dan masih banyak lagi, bisa keluar dan mengotori hidup manusia.

     

    Amat disayangkan bahwa sampai saat ini, hal-hal lahiriah itu masih terus digembargemborkan dan diikuti banyak orang. Sementara pencegahan perilaku jahat kurang mendapat tempat  dan  porsi  yang  semestinya.  Ajakan  dan  dorongan  untuk  menghindarkan  diri  dari pikiran, sikap, dan tindakan yang mengotori diri kurang kuat dan konsisten. Ajakan untuk meningkatkan sikap baik dan mewujudkannya juga kurang menggema. Sementara godaan untuk melakukan hal-hal yang kurang baik terus meningkat dan dikemas dengan amat menarik. Betapa banyak orang yang tertipu oleh bujukan dan rayuan yang menggiurkan yang seolah-olah baik dan menguntungkan pada hal amat merugikan. Penipuan tersamar dengan kemasan amat menarik banyak dilakukan secara kreatif, dan secara sepintas memberikan kesan menguntungkan, sehingga jumlah orang yang tertipu pun semakin banyak. Sabda Tuhan itu mengingatkan setiap orang agar lebih menyadari dan sekaligus berhati-hati atas kata-kata yang keluar dari mulut dan tindakan yang muncul dari dorongan pikiran dan hati, supaya terhindar dari kejahatan yang mengotori diri kita. Selain itu, setiap orang mesti melihat dengan cermat dan berhati-hati terhadap penipuan dan kejahatan. (YH)